![]() |
| CEO BPI Danantara dan Menves/BKPM, Rosan Perkasa Roeslani saat paparan Nota Keuangan dan RAPBN 2027, Jumat (14/8/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean K) |
Ayopost, Jakarta - Pernah dengar kabar Danantara siap gelontorkan dana tambahan ke pasar saham Indonesia? Banyak yang langsung heboh. Tapi coba bayangkan, kalau seluruh dana itu dipakai sekaligus, berapa lama dayanya bertahan di bursa?
Faktanya, tambahan dana sekitar Rp18 triliun itu hanya cukup untuk kurang dari dua hari transaksi rata-rata. Bukan berarti lemah, tapi justru memperlihatkan seberapa besar skala pasar saham kita sekarang.
Bagi investor ritel seperti kita, ini jadi pelajaran penting. Jangan cuma ikut euforia. Pahami dulu konteksnya biar keputusan investasi lebih bijak.
Apa Sebenarnya yang Dilakukan Danantara?
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menyiapkan tambahan dana hingga US$1 miliar atau sekitar Rp17,8–18 triliun sampai akhir 2026. Dana ini untuk investasi di saham dan obligasi, baik dalam negeri maupun luar negeri.
Sebelumnya mereka sudah mengalokasikan sekitar US$3 miliar. Jadi totalnya bisa lebih besar. Kepala Investasi Publik Danantara, Rani Piputri, menekankan bahwa pembelian dilakukan karena melihat nilai, bukan sekadar menstabilkan pasar.
Mereka akan masuk secara bertahap. Institusi besar jarang sekali memborong sekaligus supaya tidak menggerakkan harga secara drastis.
Siapa yang Berbicara dan Kapan Momentumnya Muncul?
Yang paling vokal adalah CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi, Rosan Perkasa Roeslani. Ia bilang saat ini momen tepat masuk ke bursa karena valuasi banyak saham, termasuk BUMN, sedang murah.
Pernyataan ini muncul di tengah tekanan IHSG yang sempat anjlok tajam. Penyebabnya antara lain kekhawatiran soal evaluasi MSCI terhadap status pasar Indonesia. Ada risiko downgrade yang memicu aksi jual.
Rani Piputri juga menegaskan, kalau tekanan hanya karena sentimen eksternal sementara, Danantara bisa turun tangan setelah uji tuntas.
Mengapa Dana Rp18 Triliun Hanya Kuat Kurang dari 2 Hari?
Rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) di BEI pada pekan 12–16 Oktober 2026 mencapai sekitar Rp16,23 triliun. Artinya, dana tambahan Danantara setara Rp18 triliun hanya cukup untuk sedikit lebih dari satu hari transaksi penuh.
Kalau dibelanjakan sekaligus, pengaruhnya cepat hilang. Pasar saham Indonesia memang sudah cukup dalam. Volume dan nilai transaksi hariannya besar.
Tapi ingat, ini skenario ekstrem. Di dunia nyata, institusi seperti Danantara membeli secara bertahap. Efeknya lebih stabil dan jangka panjang.
Bagaimana Strategi Praktis yang Bisa Kita Ambil?
Jangan langsung ikut-ikutan borong semua saham. Fokus pada fundamental. Rosan sendiri menyoroti saham perbankan yang valuasinya di bawah 1 kali PBV, padahal fundamentalnya masih bagus. Sektor infrastruktur dan telekomunikasi juga disebut menarik.
Coba lakukan ini:
- Cek dulu PBV dan PER saham yang kamu incar. Bandingkan dengan rata-rata industri.
- Pilih perusahaan yang punya arus kas stabil dan prospek bisnis jelas.
- Alokasikan dana secara bertahap (dollar cost averaging) supaya tidak kena timing buruk.
- Pantau perkembangan MSCI. Keputusan final mereka bisa memengaruhi aliran dana asing dalam jangka menengah.
Kalau kamu investor pemula, mulai dari reksa dana saham atau ETF yang mengikuti indeks. Lebih aman daripada langsung pilih saham satu per satu.
Di Mana Peluang Investasi Jangka Panjang Ini Berada?
Peluang terbesar ada di saham-saham blue chip dan BUMN yang sedang undervalued. Danantara sendiri menekankan pendekatan long-term investment. Mereka bukan tipe trader yang masuk-keluar cepat.
Pasar modal Indonesia tetap punya fundamental yang solid. Banyak perusahaan masih tumbuh. Koreksi harga justru bisa jadi kesempatan beli murah bagi yang sabar.
Yang perlu diwaspadai adalah sentimen jangka pendek. Kabar MSCI bisa terus memengaruhi pergerakan harian. Jadi, jangan panik jual saat harga turun, asal fundamentalnya masih oke.
Strategi Actionable untuk Investor Ritel
- Buat daftar pantauan saham sektor perbankan, infrastruktur, dan telekomunikasi yang valuasinya menarik.
- Siapkan dana cadangan khusus untuk peluang koreksi. Jangan pakai uang yang dibutuhkan dalam 1–2 tahun ke depan.
- Gunakan aplikasi trading yang punya fitur analisis fundamental sederhana.
- Ikuti perkembangan resmi dari Danantara dan BEI lewat situs resmi atau media terpercaya.
- Evaluasi portofolio setiap bulan. Jangan terlalu sering cek harga harian supaya emosi tetap terkendali.
Dengan cara ini, kamu tidak cuma ikut arus, tapi benar-benar memanfaatkan momentum seperti yang dilakukan institusi besar.
Daftar Referensi:
- Bloomberg Technoz – BPI Danantara Lihat Peluang Menarik Masuk ke Bursa Saham RI (https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/124870/bpi-danantara-lihat-peluang-menarik-masuk-ke-bursa-saham-ri)
- Detik Finance – Danantara Turun Tangan Jika IHSG Tertekan, Siapkan Rp 17,89 Triliun (https://finance.detik.com/bursa-dan-valas/d-8701073/danantara-turun-tangan-jika-ihsg-tertekan-siapkan-rp-17-89-triliun)
- Kontan – Transaksi Harian BEI Melonjak 28,52% Jadi Rp 16,23 Triliun (https://investasi.kontan.co.id/news/transaksi-harian-bei-melonjak-2852-jadi-rp-1623-triliun-ihsg-naik-094-sepekan)
- Antara News – Rosan: Koreksi saham jadi momentum Danantara investasi di pasar modal (https://www.antaranews.com/berita/5791393/rosan-koreksi-saham-jadi-momentum-danantara-investasi-di-pasar-modal)
- Reuters – Coverage terkait alokasi Dana Danantara dan isu MSCI Indonesia (berbagai laporan Oktober 2026)
.%20(Bloomberg%20Technoz:Andrean%20K).jpeg)